Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Download

Rumah Pangan

e-petani

Badan Litbang

Highlight

banner2
banner1

Kalender Kegiatan

coba

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Tekan Kerawanan Sosial dengan Membangun Pasar Organik Keluarga Di Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL). PDF Cetak E-mail
Oleh adminsulut   
Senin, 18 Juni 2012 10:53
Tekan Kerawanan Sosial dengan Membangun Pasar Organik Keluarga
Di Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL)
Di Sulawesi Utara.


Arnold C. Turang,SP, Ir. Bahtiar, MS. Yanse Tutu

Perkembangan dunia teknologi memacu kita untuk terus berkembang, bukan tidak mungkin bahwa 10-20 tahun lagi sistem manual dan konvensional sudah tergantikan oleh generasi digital. Dampak kemajuan teknologi yang begitu cepat berkembang, akan berpengaruh terhadap industri manufacture. Tidak demikian dengan teknologi pertanian, pertanian konvensional dengan muatan teknologi moderen menjadi mutualis yang harmonis.

Pada era modernisasi saat ini, dunia industri pertanian kewalahan mengikuti perkembangan industri permesinan, yang begitu cepat meninggalkan mesin-mesin konvensional, beralih pada sistem moderen. Kemajuan teknologi industri dengan beragam inovasinya, begitu banyak dampak negatif yang terjadi akibat penciptaan inovasinya. Dampak negatif dari kemajuan dunia industri yang paling nyata yakni, ia tidak dapat makan dari hasilnya sendiri dan yang lebih berbahaya kerawanan social di masyarakat dll (masih perlu kajian intensif) akibat perkemangan teknologi industri.

Peluang baru teknologi pertanian konvensional yang dibaharui yaitu: bangkitnya masyarakat organik yang pinter melihat peluang masa depan dengan membangun teknologi konvensional yang dibaharui "pertanian organik", sebagai sumber makanan sehat tanpa residu. Industri konvensional dirakit kembali lebih akrab dengan manusia yang mencurahkan pikiran untuk industry itu sendiri.

Pertanian organik dewasa ini menjadi harapan baru bagi masyarakat kelas atas, demikian juga masyarakat bawah yang mengais keuntungan dari hasil usahataninya dari hasil usahatani organic. Sebagai sumber pangan sehat, petani organic harus mengolah usahatani dari industry konvensional, yang mudah dijangkau tapi hasilnya sehat.

Masyarakat kelas atas sadar akan pentingnya teknologi konvensional dengan sentuhan inovasi baru bersumber dari alam itu sendiri, harus didorong dari petani kecil didesa. Karena industry organic besar (skalahnya) relative sulit kemurnian organiknya dibandingkan dengan skala rumah tangga tani.

Untuk membangun teknologi konvensional dengan sentuhan inovasi baru, sulit tercipta pada masyarakat maju kelas atas, dan pada daerah industri. Teknologi konvensional dibaharui akan terjadi dan bersumber pada masyarakat agraris dan memiliki kekayaan alam yang masih "perawan".

Indonesia sebagai negara agraris dengan kekayaan sumberdaya alam yang masih belum diberdayakan, menjadi salah satu negara suplayer sumber pangan dunia. Berbagai kesulitan dunia yang terlihat dalam berbagai berita di dunia maya, dapat disimpulkan diakibatkan oleh karena masalah pangan. Perkembangan teknologi berakibat pada kebutuhan pangan yang dikehendaki dewasa ini adalah pangan yang sehat. Pangan yang sehat yang dihasilkan dari teknologi konvensional yang diperbaharui (organik).

Kerawanan Sosial di Masyarakat

Kerawanan sosisal di masyarakat dapat dikatakan ada dua. Kerawanan social tingkat atas dan kerawana social menengah kebawah. Dari perbincangan dengan beberapa rekan pelindung masyarakat dan mencermati perkembangan informasi dari media elektronik dan cetak, bahwa kerawanan social di masyarakat Indonesia bermuara pada “usaha” untuk penuhi kebutuhan sehari untuk makan (bagi masyarakat kelas menengah kebawa). Sementara kerawanan social kelas atas yang dimotori oleh orang-orang pinter dan pinter-pinter, kerawanan social yang ditimbulakan adalah karena korupsi (kebutuhan untuk berkuasa dan koleksi kekayaan diatas penderitaan sesama anak bangsa, sebagai kerja mudah dan cepat kaya).

Likaran panjang kebutuhan dasar manusia yang diawali dengan “makan” ini, cukup menyita waktu aparat. Contohnya dengan pencurian, perkelahian dll sampai pada kerawanan tingkat “atas” (koruptor dll) semua karena untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, dengan menghalalkan segala cara.

Pengalaman masa lalu ketika masyarakat tekun dan bergelut dengan dunia pertanian, yang memang harus didukung dengan kerja keras, telah membawa pada keberhasilan generasi yang bermentalitas suka berusaha dan bersifat pengusaha. Masyarakt kelas menengah berusaha dalam kegiatannya untuk penuhi kebutuhan masyarakat kelas atas dengan saling bersinergis positif, sehingga saling menguntungkan kedua bela pihak, satu harapan kedepan yang harus di kaji lebih spesifik.

Ketika masyarakat lelah berusaha, mereka akan beristirahat untuk melepas lelah, demikian dengan masyarakat yang berusaha kerja keras di kegiatan usahataninya, baik di kebun dan pekarangan. Hasilnya ada pendapatan baik kebun dan pekarangan, kebutuhan masyarakat kelas mengengah keatas terpenuhi dan kerawanan ditekan, (harapannya).

Membangun Teknologi Konvensional yang Dibaharui

Kementerian Pertanian dewasa ini mengembangkan teknologi baru yang dikemas melalui program Model Rumah Pangan Lestari atau yang disingkat M-KRPL. Teknologi dalam M-KRPL ini merupakan teknologi konvensional yang diperbaharui. Konvensional, karena model ini merupakan model yang sudah dilakukan oleh masyarakat sejak jaman pertanian eksisting, kemudian diadaptasikan dengan kondisi saat ini dengan teknologi maju.

Program ini membangun kawasan pedesaan, dimana rumah tangga tani, dibiasakan kembali dengan memberdayakan lingkungannya, agar memberikan manfaat (memenuhi kebutuhan keperluan rumah) diambil dari sekitar rumah itu sendiri. Keberlanjutan dari kegiatan ini, diatur melalui pembuatan kebun bibit sebagai sumber bibit pengganti tanaman yang telah habis masa produksi. Penerapan teknologi ini, dengan memberdayakan limbah, sebagai wadah media, limbah tanaman sebagai sumber nutrisi tanaman setelah melalui proses pengolahan pupuk secara alami dengan bantuan activator alami. Limbah plastic diberdayakan sebagai sumber wadah perbanyakan dan lain-lain limbah positif dimanfaatkan untuk memberikan hasil guna di KRPL.

Dalam kegiatan ini masyarakat berlatih bersama bagaimana mengelolah usahatani spesifik lokasi dengan memberdayakan sumberdaya local dengan sentuhan global. Masyarakat didampingi dalam pengelolaan sumberdaya local untuk dijadikan bermanfaat secara alami dalam menghasilkan produk organic.

Pengalaman Pelaksanan M-KRPL di Sulawesi Utara

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara, dalam mensukseskan program ini, telah memulai kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari di 11 Kabupaten kota di Sulawesi Utara. Kegiatan ini dilaksanakan sejak 2011 dimulai di kota Bitung. Di Kota Bitung, bersama dengan Dinas Pertanian Dan Peternakan setempat telah membangun model pada 12 kepala rumah tanggan.

Sementara untuk kegiatan di kepulauan Sangihe, yang dimulai tahun 2012, sudah memberikan effek positif pada ibu-ibu PKK di kepulauan ini. Hasil panen perdana yang dilakukan oleh ketua PKK kepulauan Sangihe ibu dr.Wiesye Makagansa-Rompis, MSi., produksi pekarangan sudah dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga ibu-ibu PKK di Naha. Bahkan sudah ada transaksi penjualan ke pasar. Kegiatan M-KRPL di kepulauan ini sudah di jadikan sebagai gerakan oleh ibu-ibu PKK dan direplikasi ke ibu-ibu PKK di kecamatan lain.

M-KRPL di kota Tomohon, saat ini sudah membangun Kebun Bibit Desa (KBD) dan bibit sudah mulai diambil oleh ibu-ibu PKK di desa Tara-tara Tiga. Di kota Tomohon melibatkan dua puluh rumah tangga ibu-ibu PKK. Ibu-ibu antusia dengan kegiatan ini karena membantu ibu-ibu penuhi kebutuhan harian akan bumbu dan sayuran, yang sebelumnya harus menunggu penjajak motor dan mobil yang dari pasar Tomohon.

Hal lain disampaikan oleh petani di Desa Kima Atas sebagai lokasi M-KRPL Manado, ketika di kunjungi oleh Menteri Pertanian (Kamis 14/06/2012). Pengembangan MKRPL menjadi sarana sumber pangan keluarga. Dilokasi ini petani memanfaatkan halaman dengan tanaman umbi-umbi (talas) karena menurut penuturan masyarakat, dalam hidangan pesta/ makan keluarga tanpa Talas belumlah lengkap pesta aau acara makan keluarga. Sehingga dengan M-KRPL, mereka dapat kembangkan tanaman talas.  

Teknis Pelaksanaan Lapang

Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi pada stakeholders, dan masyarakat pelaksana. Selanjutnya dilakukan pemetaan lokasi dengan membuat titik-titik kordinat lokasi yang dilaporkan kepusat selanjutnya monitoring pusat melalui satelit, kata Kabadan Litbang Dr. Haryono pada sambutan membuka Workshop Kerjasama di Bogor (27-29 Mei 2012).

Pemodelan KRPL disesuaikan dengan kondisi setempat (spesifik lokasi) dengan sumberdaya alam dan manusia setempat. Dalam pemodelan dapat di klasifikasikan: Model Pedesaan yang lahannya masih membentang luas, Model Perkotaan yang ditandai dengan lantai mulai dibenton dan Model perumahan yang hampir beton semua dan lahan sangat sempit. Pada setiap model penataan tanaman dikelompokkan sesuai penggunaan dan manfaat mengacu pada kearifan local.

Satu Model kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) dibangun Kebun Bibit Desa (KBD) dan kawasan yang menggambarkan model-model yang ada, sebagai tempat belajar bagi masyarakat (Visitor Plot).

Dalam model tersebut ada pengelolaan KBD sebagai sumber bibit masyarakat yang dikelolah kontinu sesuai jadwal tanam dan tanaman di masyarakat, serta memberi pelayanan bibit. Sementara juga di KBD ada visitor model-model tanaman yang menghias dalam bentuk bedengan dengan pernik-prnik kreasi sesuai spesifik lokasi, tanaman yang dalam polibag sebagai model untuk rumah beton, tanaman dalam bentuk rak-rak untuk vertikultur rumah sempit, yang masing-masing dikreasikan sesuai kearifan local.

Pengelolaan M-KRPL, harus di design bukan hanya memanfaatkan lingkungan rumah serta untuk penuhi kebutuhan bumbu masak rumah tangga, tapi juga harus menjadi sumber pendapatan keluarga dan memberikan effek seni.

KRPL Sebagai Pasar Organik Pribadi

Harapan untuk menikmati tanaman sehat bersumber dari pasar organik yang sering di dendangkan oleh para pemangku kepentingan dan masyarakat kelas atas, tidak sesulit seperti cerita orang berduit yang menceritakan pengalaman berbelanja dipasar organik di swalayan kota besar. Masyarakt kecil pun dapat membuat pasar organik setara dengan pasar organik di swalayan besar dengan berbagai label yang ujung-ujungnya juga dihasilkan dari desa yang telah ditata dengan teknologi konvensional dibaharui.

Kebutuhan rumah tangga yang biasanya harus mengambil waktu berbelanja di pasar kota yang harus dilalui dengan mengeluarkan biaya kendaraan serta hasil belanjaan yang ketika tiba dirumah, ada kalanya telah hancur, kini telah teratasi dengan berbelanja di halaman dengan hanya mengeluarkan tenaga sedikit, belanjaan sudah tersedian sesuai kebutuhan dan masih ditempeli dengan embun-embun pagi sebagai simbol kesegaran tanaman.

Akhirnya, dengan M-KRPL diharapkan akan memberikan solusi bagi petani dan keluarganya dalam memenuhi kebutuhan dapur, sumber makanan sehat masyarakat sekitar, sumber pendapatan rumah tangga serta nikmat effek seni dan kesehatan lingkungan.

Harapak kedepan, M-KRPL dapat bersanding positif dengan program P2KP untuk replikasi di masyarakat. Kerjasama para penyuluh pertanian lapangan dan kesadaran petani sangat berperan penting dalam keberhasilan M-KRPL, kegiatan ini diharapkan kembali membudaya pada petani tanpa melihat bantuan yang akan datang, tapi melihat peluang usaha baru dari kegiatan ini. (*art).
Penulis: Teknisi dan Peneliti di BPTP Sulut serta Guru di SMA Minsel yang sudah mensosialisasikan M-KRPL di Sekolah.
LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com